Woensdag 20 Maart 2013

Kerangka Dasar Teori Keilmuan Metode Induksi dan Eksperimen


Metode Induksi dan Eksperimen

Sir Francis Bacon, Viscount St Alban pertama lahir 22 Januari 1561, dan wafat 9 April 1626 adalah seorang filusuf, negarawan dan penulis Inggris. Ia juga dikenal sebagai pendukung Revolusi Sains. Menurut John Aubrey, dedikasinya menggabungkannya ke dalam sebuah kelompok ilmuwan yang bersejarah yang meninggal dunia akibat eksperimen mereka sendiri.
Karya-karyanya membangun dan memopulerkan matodologi induksi untuk penelitian ilmiah, seringkali disebut metode Baconian atau secara sederhana disebut  metode ilmiah[1].
Dalam masanya, metode-metode tersebut dihubung-hubungkan dengan trend kepercayaan Hermes dan Alchemy. Walaupun demikian, kebutuhannya terhadap sebuah prosedur yang terencana untuk meneliti semua hal yang alami menandai sebuah pembaruan dalam kerangka retoris dan teoritis untuk ilmu pengetahuan. Kebanyakan dari kerangka-kerangka penelitian ilmiah ini masih menjadi dasar lahirnya metodologi yang lebih baik hari ini.
Tetapi, tulisan Bacon terpenting adalah menyangkut falsafah ilmu pengetahuan. Dia merencanakan suatu kerja besar Instauratio Magna atau Great Renewal dalam enam bagian.Bagian pertama dimaksud untuk meninjau kembali keadaan ilmu pengetahuan kita. Bagian kedua menjabarkan sistem baru penelaahan ilmu. Bagian ketiga berisi kumpulan data empiris. Bagian keempat berisi ilustrasi sistem baru ilmiahnya dalam praktek. Bagian kelima menyuguhkan kesimpulan sementara. Dan bagian keenam suatu sintesa ilmu pengetahuan yang diperoleh dari metode barunya. Tidaklah mengherankan, skema raksasa ini --mungkin pekerjaan yang paling ambisius sejak Aristoteles--tak pernah terselesaikan. Tetapi, buku The Advancement of Learning (1605) dan Novum Organum (1620) dapat dianggap sebagai penyelesaian kedua bagian dari kerja raksasanya.
 Novum Organum atau New Instrument mungkin buku Bacon terpenting. Buku ini dasarnya merupakan pernyataan pengukuhan untuk penerimaan metode empiris tentang penyelidikan.. Kemudian, kata Bacon, ambil kesimpulan dari fakta-fakta itu dengan cara argumentasi induktif yang logis. Meskipun para ilmuwan tidak mengikuti metode induktif Bacon dalam semua segi, tetapi ide umum yang diutarakannya untuk penelitian dan percobaan penting yang menjadi gerak dorong dari metode yang digunakan oleh mereka sejak itu.
Francis Bacon bukanlah orang pertama yang menemukan arti kegunaan penyimpulan akliah secara induktif, dan juga bukan dia orang pertama yang memahami keuntungan-keuntungan yang mungkin diraih oleh masyarakat pengembangan ilmu pengetahuan. Ilmuwan-ilmuwan Islam sejak lama diketahui sudah mengembangkan penyimpulan akliah. Tetapi, tak ada orang sebelum Bacon yang pernah menerbitkan dan menyebarkan gagasan seluas itu dan sesemangat itu. Lebih dari itu, sebagian karena Bacon seorang penulis yang begitu bagus, dan sebagian lagi karena kemasyhurannya selaku politikus terkemuka, sikap Bacon terhadap ilmu pengetahuan betul-betul punya makna penting yang besar. Tatkala "Royal Society of London" (kelompok elit orang pilihan) didirikan tahun 1662 untuk menggalakkan ilmu pengetahuan, para pendirinya menyebut Bacon sebagai sumber inspirasinya.
Pada setiap ilmu terdapat penggunaan metode induksi ataupun deduksi, menurut apa yang disebut siklus empiris. Dalam siklus ini memiliki 5 tahapan, antara lain: Observasi, Induksi, Deduksi, Eksperimen, dan evalusi[2]. Tahapan itu pada dasarnya tidak berlaku secara berturut-turut, melainkan menjadi semua sekaligus. Akan tetapi, siklus ini diberi bentuk tersendiri dalam penelitian filsafat, behubungan dengan sifat-sifat objek formal yang istimewa, yaitu manusia.
Secara umum induksi dijelaskan sebagai proses berpikir di mana orang berjalan dari yang kurang universal menuju yang lebih universal, atau secara lebih ketat lagi dari yang individual atau partikular menuju ke yang umum atau  universal. Induksi bisa mengantarkan manusia pada tingkatan inderawi dan individual menuju ke tingkatan intelektual dan universal.
            Dalam segala bentuknya yang lebih khusus induksi merupakan persoalan generalisasi empiris, yakni kita berargumen bahwa karena adanya sesuatu yang  telah terbukti benar dalam sejumlah kasus yang diamati. Oleh karena itu, argument ataupun penelitian ilmiah yang bertitik tolak dari pengetahuan-pengetahuan khusus untuk sampai kepada suatu kesimpulan berupa pengetahuan yang umum.[3]
Adapun David Hume menayatakan penyataannya, bahwa argumentasi yang bersifat induktif bersandar pada suatu keanekaragaman, kebiasaan dan pengalaman, hal ini sesuai dengan apa yang menjadi stressing point Francis Bacon dengan menekankan aspek eksperimen sebagai hal penting untuk menaklukan alam dengan rahasianya (to torture nature for her secrets). Dalam hal ini Bacon menyebutnya sebagai komposisi sejarah alamiah dan eksperimental (the composition of a natural and experimental history).[4]
Menurutnya, eksperimen sangat penting karena jika kita dengan sederhana mengamati tentang apa-apa yang terjadi di sekitar kita, maka kita dibatasi dalam data-data yang kita kumpulkan; ketika kita menampilkan sebuah percobaan kita mengendalikan keadaan pengamatan sejauh mungkin dan memanipulasi keadaan dari percobaan untuk melihat apa yang terjadi dalam lingkungan-lingkungan di mana hal sebaliknya tidak pernah terjadi. Eksperimen memungkinkan kita untuk menanyakan “apa yang terjadi jika ...?”. Bacon menyatakan bahwa dengan mengadakan percobaan-percobaan kita mampu menaklukan alam dan rahasianya.[5] Satu hal yang terpenting adalah bahwa banyak hal-hal yang terpelihara atau  terjaga. Jadi, apa yang orang-orang perlu pelajari dari alam ini ialah bagaimana menggunakannya secara penuh untuk mendominasi dengan keseluruhan alam tersebut dan juga atas orang lain.
Berdasarkan pemikirannya tersebut, Bacon merumuskan dasar-dasar berpikir induktif modern. Menurutnya, metode induksi yang tepat adalah induksi yang bertitik pangkal pada pemeriksaan yang diteliti dan telaten mengenai data-data partikular, yang pada tahap selanjutnya rasio dapat bergerak maju menuju penafsiran terhadap alam (interpretatio natura). Untuk mencari dan menemukan kebenaran dengan metode induksi, Bacon mengemukakan ada dua cara yang harus dilakukan, yaitu:
1)   Rasio yang digunakan harus mengacu pada pengamatan inderawi yang partikular, kemudian mengungkapnya secara umum.
2)    Rasio yang berpangkal pada pengamatan inderawi yang partikular digunakan untuk merumuskan ungkapan umum yang terdekat dan masih dalam jangkauan pengamatan itu sendiri, kemudian secara bertahap mengungkap yang lebih umum di luar pengamatan.
       Dalam filsafat Whitehead induksi bukanlah proses menarik hukum-hukum dari observasi yang diulang-ulang tetapi dengan cara membuat dugaan tentang ayat-ayat masa depan yang didasarkan pada sifat-sifat masa lampau dari benda-benda yang diobservasi. Maka hal ini melibatkan imajinasi dan akal. Menurutnya, generalisasi ide harus sampai pada suatu sistem ide yang koheren, logis dan niscaya.[6]
Untuk menghindari penggunaan metode induksi yang keliru, Bacon menyarankan agar menghindari empat macam idola atau rintangan dalam berpikir, yaitu:
a) Idola tribus (bangsa) yaitu prasangka yang dihasilkan oleh pesona atas keajekan tatanan alamiah sehingga seringkali orang tidak mampu memandang alam secara obyektif. Idola ini menawan pikiran orang banyak, sehingga menjadi prasangka yang kolektif
b) Idola cave (cave/specus = gua), maksudnya pengalaman dan minat pribadi kita sendiri mengarahkan cara kita melihat dunia, sehingga dunia obyektif dikaburkan.
c) Idola fora (forum = pasar) adalah yang paling berbahaya. Acuannya adalah pendapat orang yang diterimanya begitu saja sehingga mengarahkan keyakinan dan penilaiannya yang tidak teruji.
d) Idola theatra (theatra = panggung). Dengan konsep ini, sistem filsafat tradisional adalah   kenyataan subyektif dari para filosofnya. Sistem ini dipentaskan, lalu tamat seperti sebuah teater.
Pada akhir tahapan ini Bacon menciptakan sebuah teori epistomologi induktivisme sebagai kesimpulan dari observasi tersebut. Teori Induksi ini, dalam pengertian luas hanyalah merupakan suatu bentuk pemikiran (reasoning) yang bukan deduktif – cenderung menentang dan attacking - tapi dalam pengertian lebih sempit di mana Bacon gunakan, adalah suatu bentuk dari pemikiran di mana kita menjeneralisasikan dari sebuah keseluruhan pengamatan terhadap kumpulan bagian-bagian penting untuk sebuah kesimpulan umum. Karena induksi sendiri memiliki beberapa sifat yang tidak boleh dihilangkan atau diabaikan.


[1] Wikipedia bahasa Indonesi, “Francis Bacon” Diakses pada tanggal 22 April 2012 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Francis_Bacon
[2] Bakker Anton dan  Charis Zubair Ahmad, Metode Penelitian Filsafat (Yogyakarta: Penerbit Knisius, 1998)h. 43
[3] Suhartono Suparlan, Dasar-Dasar Filsafat, (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2004), h. 97
[4] Diakses pada tanggal 22 April 2012 dari http://benvika-cercahanrasio.blogspot.com/2011/02/induksi-bacon.html
 [5] ibid
[6] Diakses pada tanggal 22 April 2012 dari http://benvika-cercahanrasio.blogspot.com/2011/02/induksi-bacon.html

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking